Tugas Kelompok
MAKALAH
SOSIOLOGI
KELUARGA
(
KENAKALAN REMAJA )
OLEH
ARDIANSYAH
STIA PRIMA BONE
2012
Kata Pengantar
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atasberkat Taufik dan
Hidayanh-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah yang berjudul “KENAKALAN REMAJA” dapat terselesaikan.
Dan tak lupa pula salam serta shalawat hanya tercurahkan kepada Baginda
Rasulullah SAW.
Makalah
ini disusun oleh penulis berdasarkan fakta yang ada mengenai masalah kenakalan
remaja yang penulis ketahui. Makalah ini disusun untuk sekiranya dapat digunkan
sebagai referensi bacaan maupun bahan penelitian dan pengajaran terhadap
remaja.
Kami
menyadari bahwa makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, karena
kesempurnaan itu datingnya dari Allah SWT dan kekurangan itu dating dari kami.
Hal ini disebabkan karena keterbatasan pengetahuan, media dll. Oleh karena kami
sangat mengharapkan saran dan kritik dari bernagaipihak yang bersifat
membangun.
Kami
berharap semoga segala bantuan dan motivasi dari berbagai pihak mendapat berkah
dari-Nya. Demikian makalah ini dan mudah-mudahan dapat bermamfaat untuk kita
semua.
PENULIS
KELOMPOK II
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Manusia
merupakan mahluk social yang dapat didefinisikan sebagai suatu interaksi yang
dilakukan oleh seseorang kepada orang lain, dimana mereka senantiasa melakukan
hubungan dan pengaruh timbal balik dalam rangka mempertahankan kehidupannya.
Akan tetapi ketika setiap insane mulai melangkah dan menjalani masa dewasa,
setriap insane mengalami gejolak perubahan akan polah pikir sosial.
Masa
remaja adalah sebuah periode ketika kehdupan manusia dalam batasan usia maupun
peranannya mengalami pubertas. Pada masa tersebut setiap individu akan terjadi
perubahan di mana bagian dari tubuhnya mengalami perubahan yang bentuk nyata.
Dalam keperibadian dan polah pikirnya sudah menunjukkan akan ketertarikan lawan
jenis. Hal tersebut disebabkan karena pada anak perempuan, telah mengalami
pertumbuhan hormone yang disebut estrogen
dan progesterone dua jenis hormone kewanitaan yang menyebabkan
perubahan pada bagian tubuh tertentu dan terjadi polah piker. Pada anak
laki-laki, luterinizing hormone yang
dinamakan Interstitial-Cell Stimulating
Hormone (ICSH) yang merangsang pertumbuhan testosterone. Di sisi lain, dengan meluapnya gejolak asmara kaum
muda-mudi, mereka dihadapkan kepada situasi yang dapat memicu penurunan akhlak
dan moral akan nilai-nilai dan norma-norma yang telah ditanamkan sejak dulu
hingga sekarang. Dalam arti yang umum, suatu maza lazim dijalani individu yang
memulai memasuki usia remaja kemudian perkemnagan fisik dan psikologis pada
remaja memungkingkan terjadinya ketertarikan terhadap lawan jenis dan keinginan
membetuk hubungan yang lebih dan hubungan pertemanan atau persahabatan disebut
pacaran.
Tujuan kami mengangkat judul ini
supaya remaja mengetahui pengaruh kenakalan remaja yang dapat merigikan diri
sendiri, keluarga, dan terlebih untuk masa depan sendiri, dan dapat menghindari
kenakalan remaja.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apaka
pengertian kenakalan remaja?
2.
Factor-faktor
apa yang mempengaruhi timbulnya kenakalan remaja?
3.
Bagai manakah contoh dari Kenakalan Remaja?
4. Bagaimana peran orang tua, guru
dan lingkungan dalam menangani kenakalan remaja?
5.
Bagaimana cara mencegah dan mengatasi
kenakalan remaja?
C.
Tujuan
Adapun
tujuannya yaitu untuk:
1.
Mengetahui
pengertian kenakalan remaja.
2.
Mengetahui
Factor-faktor yang mempengaruhi timbulnya
kenakalan remaja.
3.
Mengetahui contoh dari Kenakalan
Remaja.
4. Mengetahui peran orang tua, guru dan
lingkungan dalam menangani kenakalan remaja.
5.
Mengetahui cara mencegah dan mengatasi kenakalan remaja.
BAB II
LANDASAN TEORI
Istilah
remaja bersal dari bahasa latin “adolescere” yang berarti ramaja. Mencakup
kematangan mental, emosi, social, dan fisik. Pandangan ini diungkapkan oleh
john pieget secara psikologi masa remaja adalah usia saat individu berintegrasi
dengan masyarakat dewasa.
Remaja
adalah usia dimana individu mulai berintegrasi dalam masyarakat luas. Dengan
kata lain tidal lagi merasa dibawah tingkat orang-orang yang lebih tua
melainkan dalam tingkatan yang sama, sekuarang-kurangnya dalam masalah hak
integrasi dalam masyarakat, termasuk di dalamnya juga perubahan intelektual
yang mencolok. Remaja begitu mudah menangkap perubahan gaya hidup yang terajdi
di lingkungan sekitarnya dan dapat mengimlementasikannya dalam kehiduapan
sehari-hari.
Masa
remaja merupakan masa pencarian identitas diri, baik dalam bentuk pencarian
gaya hidup, gaya bicara, bernampilan dan kepribadian. Dalam pencarian itu semua
biasanya banyak dijumpai orang-orang yang memakai atribut yang sebenarnya
mereka hanya meniru-niru saja. Peniruan itu dilakukan karena mereka ingin
mengikutim parah idola mereka yang wajahnya banyak terpampan dalam media massa.
Model berpakaian mereka akan menjadi trendsetter. Dalam hal ini media massa
sangat berpengaruh besar terhadap perubahan gaya hidup remaja. Santrock
mengatakan bahwa kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku
remaja yang todak dapat diterima secara social sehingga terjadi tindakan
criminal.
Pergaulan
menyumbang buah fikiran dan ninovasi ilmu yang sangat tinggi dan melalui
pergaulan juga ia boleh mewujudkan setia kawan yang baik. Sebaiknya pergaulan
jugalah asas dan puncak masalah social serta gejalah negative yang berlaku
disekeliling kita. Melihat kepada nilai-nilai yang tercipta melalui pergaulan
ini ternyata kita tidak dapat lari dari bergaul dalam lingkungan masyarakat.
Remaja terutamanya akan mengalami berbagai ragam pergaulan dala kehidupan. Pergaulan jangan sampai melampaui
batas, biarlah setiap pergaulan yang akan dilalui itu merukan pergaulan yang
berada di tahap lingkungan norma-norma yang bersih dan beretikah, disamping
lebih jauh dari itu berlandasakan kepada kehendak dan beragama. Dalam
menentukan pergaulan ini remaja memang agak kurang matang dan bijak dalam
menentukannya, karena pengaruh pergaulan tersebut banyak dilandaskan kepada
jenid dan aktivitis macam mana untuk mewujudkan keperluan pergaulan.
BAB III
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja
ialah sikap dan prilaku yang menyimpang dari aturan, peraturan sosial, adat,
hukum dan agama. Oleh karena itu setiap tindakan remaja yang dianggap salah
atau tidak pada tempatnya dapat dikatakan /dikualifikasikan sebagai kenakalan.
Sedangkan Menurut Paul
Moedikdo,SH kenakalan remaja adalah :
1. Semua perbuatan yang
dari orang dewasa merupakan suatu kejahatan bagi anak-anak merupakan kenakalan
jadi semua yang dilarang oleh hukum pidana, seperti mencuri, menganiaya dan
sebagainya.
2. Semua perbuatan
penyelewengan dari norma kelompok tertentu untuk menimbulkan keonaran dalam
masyarakat.
3. Semua perbuatan yang
menunjukkan kebutuhan perlindungan bagi sosial.
B.
Hal – Hal Yang Mempengaruhi Timbulnya Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja dapat ditimbulkan oleh
beberapa hal, sebagian di antaranya adalah:
1.
Pengaruh Kawan Sepermainan
Di kalangan remaja, memiliki banyak kawan adalah merupakan satu
bentuk prestasi tersendiri. Makin banyak kawan, makin tinggi nilai mereka di
mata teman-temannya. Apalagi mereka dapat memiliki teman dari kalangan
terbatas. Misalnya, anak orang yang paling kaya di kota itu, anak pejabat
pemerintah setempat bahkan mungkin pusat atau pun anak orang terpandang
lainnya. Di jaman sekarang, pengaruh kawan bermain ini bukan hanya membanggakan
si remaja saja tetapi bahkan juga pada orangtuanya. Orangtua juga senang dan
bangga kalau anaknya mempunyai teman bergaul dari kalangan tertentu tersebut.
Padahal, kebanggaan ini adalah semu sifatnya. Malah kalau tidak dapat
dikendalikan, pergaulan itu akan menimbulkan kekecewaan nantinya. Sebab kawan
dari kalangan tertentu pasti juga mempunyai gaya hidup yang tertentu pula.
Apabila si anak akan berusaha mengikuti tetapi tidak mempunyai modal ataupun
orangtua tidak mampu memenuhinya maka anak akan menjadi frustrasi. Apabila
timbul frustrasi, maka remaja kemudian akan melarikan rasa kekecewaannya itu
pada narkotik, obat terlarang, dan lain sebagainya.Pengaruh kawan ini memang
cukup besar. Dalam Mangala Sutta, Sang Buddha bersabda: “Tak
bergaul dengan orang tak bijaksana, bergaul dengan mereka yang bijaksana,
itulah Berkah Utama”. Pengaruh kawan sering diumpamakan sebagai segumpal
daging busuk apabila dibungkus dengan selembar daun maka daun itupun akan
berbau busuk. Sedangkan bila sebatang kayu cendana dibungkus dengan selembar
kertas, kertas itu pun akan wangi baunya. Perumpamaan ini menunjukkan
sedemikian besarnya pengaruh pergaulan dalam membentuk watak dan kepribadian
seseorang ketika remaja, khususnya. Oleh karena itu, orangtua para remaja
hendaknya berhati-hati dan bijaksana dalam memberikan kesempatan anaknya
bergaul. Jangan biarkan anak bergaul dengan kawan-kawan yang tidak benar.
Memiliki teman bergaul yang tidak sesuai, anak di kemudian hari akan banyak
menimbulkan masalah bagi orangtuanya.
Untuk menghindari masalah yang akan timbul akibat pergaulan,
selain mengarahkan untuk mempunyai teman bergaul yang sesuai, orangtua
hendaknya juga memberikan kesibukan dan mempercayakan sebagian tanggung jawab
rumah tangga kepada si remaja. Pemberian tanggung jawab ini hendaknya tidak
dengan pemaksaan maupun mengada-ada. Berilah pengertian yang jelas dahulu,
sekaligus berilah teladan pula. Sebab dengan memberikan tanggung jawab dalam
rumah akan dapat mengurangi waktu anak ‘kluyuran’ tidak karuan dan sekaligus
dapat melatih anak mengetahui tugas dan kewajiban serta tanggung jawab dalam
rumah tangga. Mereka dilatih untuk disiplin serta mampu memecahkan masalah
sehari-hari. Mereka dididik untuk mandiri. Selain itu, berilah pengarahan
kepada mereka tentang batasan teman yang baik.
Dalam Digha Nikaya III, 188, Sang Buddha memberikan
petunjuk tentang kriteria teman baik yaitu mereka yang memberikan perlindungan
apabila kita kurang hati-hati, menjaga barang-barang dan harta kita apabila
kita lengah, memberikan perlindungan apabila kita berada dalam bahaya, tidak
pergi meninggalkan kita apabila kita sedang dalam bahaya dan kesulitan, dan
membantu sanak keluarga kita.
Sebaliknya, dalam Digha Nikaya III, 182 diterangkan
pula kriteria teman yang tidak baik. Mereka adalah teman yang akan mendorong
seseorang untuk menjadi penjudi, orang yang tidak bermoral, pemabuk, penipu,
dan pelanggar hukum.
2. Pendidikan
Memberikan pendidikan yang sesuai adalah merupakan salah satu tugas orangtua kepada anak seperti yang telah diterangkan oleh Sang Buddha dalam Digha Nikaya III, 188. Agar anak dapat memperoleh pendidikan yang sesuai, pilihkanlah sekolah yang bermutu. Selain itu, perlu dipikirkan pula latar belakang agama pengelola sekolah. Hal ini penting untuk menjaga agar pendidikan Agama Buddha yang telah diperoleh anak di rumah tidak kacau dengan agama yang diajarkan di sekolah. Berilah pengertian yang benar tentang adanya beberapa agama di dunia. Berilah pengertian yang baik dan bebas dari kebencian tentang alasan orangtua memilih agama Buddha serta alasan seorang anak harus mengikuti agama orangtua, Agama Buddha.Ketika anak telah berusia 17 tahun atau 18 tahun yang merupakan akhir masa remaja, anak mulai akan memilih perguruan tinggi. Orangtua hendaknya membantu memberikan pengarahan agar masa depan si anak berbahagia.
Memberikan pendidikan yang sesuai adalah merupakan salah satu tugas orangtua kepada anak seperti yang telah diterangkan oleh Sang Buddha dalam Digha Nikaya III, 188. Agar anak dapat memperoleh pendidikan yang sesuai, pilihkanlah sekolah yang bermutu. Selain itu, perlu dipikirkan pula latar belakang agama pengelola sekolah. Hal ini penting untuk menjaga agar pendidikan Agama Buddha yang telah diperoleh anak di rumah tidak kacau dengan agama yang diajarkan di sekolah. Berilah pengertian yang benar tentang adanya beberapa agama di dunia. Berilah pengertian yang baik dan bebas dari kebencian tentang alasan orangtua memilih agama Buddha serta alasan seorang anak harus mengikuti agama orangtua, Agama Buddha.Ketika anak telah berusia 17 tahun atau 18 tahun yang merupakan akhir masa remaja, anak mulai akan memilih perguruan tinggi. Orangtua hendaknya membantu memberikan pengarahan agar masa depan si anak berbahagia.
Arahkanlah agar anak memilih jurusan sesuai dengan kesenangan
dan bakat anak, bukan semata-mata karena kesenangan orang tua. Masih sering
terjadi dalam masyarakat, orangtua yang memaksakan kehendaknya agar di masa
depan anaknya memilih profesi tertentu yang sesuai dengan keinginan orangtua.
Pemaksaan ini tidak jarang justru akan berakhir dengan kekecewaan. Sebab, meski
memang ada sebagian anak yang berhasil mengikuti kehendak orangtuanya tersebut,
tetapi tidak sedikit pula yang kurang berhasil dan kemudian menjadi kecewa,
frustrasi dan akhirnya tidak ingin bersekolah sama sekali. Mereka malah pergi
bersama dengan kawan-kawannya, bersenang-senang tanpa mengenal waktu bahkan
mungkin kemudian menjadi salah satu pengguna obat-obat terlarang.
Anak pasti juga mempunyai hobi tertentu. Seperti yang telah disinggung
di atas, biarkanlah anak memilih jurusan sekolah yang sesuai dengan kesenangan
ataupun bakat dan hobi si anak. Tetapi bila anak tersebut tidak ingin
bersekolah yang sesuai dengan hobinya, maka berilah pengertian kepadanya bahwa
tugas utamanya adalah bersekolah sesuai dengan pilihannya, sedangkan hobi
adalah kegiatan sampingan yang boleh dilakukan bila tugas utama telah selesai
dikerjakan.
3. Penggunaan Waktu Luang
Kegiatan di masa remaja sering hanya berkisar pada kegiatan
sekolah dan seputar usaha menyelesaikan urusan di rumah, selain itu mereka
bebas, tidak ada kegiatan. Apabila waktu luang tanpa kegiatan ini terlalu
banyak, pada si remaja akan timbul gagasan untuk mengisi waktu luangnya dengan
berbagai bentuk kegiatan. Apabila si remaja melakukan kegiatan yang positif,
hal ini tidak akan menimbulkan masalah. Namun, jika ia melakukan kegiatan yang
negatif maka lingkungan dapat terganggu. Seringkali perbuatan negatif ini hanya
terdorong rasa iseng saja. Tindakan iseng ini selain untuk mengisi waktu juga
tidak jarang dipergunakan para remaja untuk menarik perhatian lingkungannya.
Perhatian yang diharapkan dapat berasal dari orangtuanya maupun kawan
sepermainannya. Celakanya, kawan sebaya sering menganggap iseng berbahaya
adalah salah satu bentuk pamer sifat jagoan yang sangat membanggakan. Misalnya,
ngebut tanpa lampu dimalam hari, mencuri, merusak, minum minuman keras, obat
bius, dan sebagainya.Munculnya kegiatan iseng tersebut selain atas inisiatif si
remaja sendiri, sering pula karena dorongan teman sepergaulan yang kurang
sesuai. Sebab dalam masyarakat, pada umunya apabila seseorang tidak mengikuti
gaya hidup anggota kelompoknya maka ia akan dijauhi oleh lingkungannya.
Tindakan pengasingan ini jelas tidak mengenakkan hati si remaja, akhirnya
mereka terpaksa mengikuti tindakan kawan-kawannya. Akhirnya ia terjerumus.
Tersesat.
Oleh karena itu, orangtua hendaknya memberikan pengarahan yang
berdasarkan cinta kasih bahwa sikap iseng negatif seperti itu akan merugikan
dirinya sendiri, orangtua, maupun lingkungannya. Dalam memberikan pengarahan,
orangtua hendaknya hanya membatasi keisengan mereka. Jangan terlalu ikut campur
dengan urusan remaja. Ada kemungkinan, keisengan remaja adalah semacam
‘refreshing’ atas kejenuhannya dengan urusan tugas-tugas sekolah. Dan apabila
anak senang berkelahi, orangtua dapat memberikan penyaluran dengan
mengikutkannya pada satu kelompok olahraga beladiri.
Mengisi waktu luang selain diserahkan kepada kebijaksanaan
remaja, ada baiknya pula orangtua ikut memikirkannya pula. Orangtua hendaknya
jangan hanya tersita oleh kesibukan sehari-hari. Orangtua hendaknya tidak hanya
memenuhi kebutuhan materi remaja saja. Orangtua hendaknya juga memperhatikan perkembangan
batinnya. Remaja, selain membutuhkan materi, sebenarnya juga membutuhkan
perhatian dan kasih sayang. Oleh karena itu, waktu luang yang dimiliki remaja
dapat diisi dengan kegiatan keluarga sekaligus sebagai sarana rekreasi.
Kegiatan keluarga ini hendaknya dapat diikuti oleh seluruh anggota keluarga.
Kegiatan keluarga dapat berupa pembacaan Paritta bersama di Cetiya dalam rumah
ataupun melakukan berbagai bentuk permainan bersama, misalnya scrabble,
monopoli, dan lain sebagainya. Kegiatan keluarga dapat pula berupa tukar
pikiran dan berbicara dari hati ke hati. Misalnya, dengan makan malam bersama
atau duduk santai di ruang keluarga. Pada hari Minggu seluruh anggota keluarga
dapat diajak kebaktian di Vihãra setempat. Mengikuti kebaktian, selain memperbaiki
pola pikir agar lebih positif sesuai dengan Buddha Dhamma juga dapat menjadi
sarana rekreasi. Hal ini dapat terjadi karena di Vihãra kita dapat berjumpa
dengan banyak teman dan juga dapat berdiskusi Dhamma dengan para Bhikkhu maupun
pandita yang dijumpai. Selain itu, dihari libur, seluruh anggota keluarga dapat
bersama-sama pergi berenang, jalan-jalan ke taman ria atau mal, dan lain
sebagainya.
4. Uang Saku
Orangtua hendaknya memberikan teladan untuk menanamkan
pengertian bahwa uang hanya dapat diperoleh dengan kerja dan keringat. Remaja
hendaknya dididik agar dapat menghargai nilai uang. Mereka dilatih agar
mempunyai sifat tidak suka memboroskan uang tetapi juga tidak terlalu kikir.
Anak diajarkan hidup dengan bijaksana dalam mempergunakan uang dengan selalu
menggunakan prinsip hidup ‘Jalan tengah’ seperti yang diajarkan oleh Sang
Buddha.Ajarkan pula anak untuk mempunyai kebiasaan menabung sebagian dari uang sakunya.
Menabung bukanlah pengembangan watak kikir, melainkan sebagai bentuk menghargai
uang yang didapat dengan kerja dan semangat.
Pemberian uang saku kepada remaja memang tidak dapat
dihindarkan. Namun, sebaiknya uang saku diberikan dengan dasar kebijaksanaan.
Jangan berlebihan. Uang saku yang diberikan dengan tidak bijaksana akan dapat
menimbulkan masalah. Yaitu:
1.
Anak menjadi boros
2.
Anak tidak menghargai uang, dan
3.
Anak malas belajar, sebab mereka pikir tanpa kepandaian pun uang
gampang.
5. Perilaku Seksual
Pada saat ini,
kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat yang menguatirkan. Para remaja
dengan bebas dapat bergaul antar jenis. Tidak jarang dijumpai pemandangan di
tempat-tempat umum, para remaja saling berangkulan mesra tanpa memperdulikan
masyarakat sekitarnya. Mereka sudah mengenal istilah pacaran sejak awal masa
remaja. Pacar, bagi mereka, merupakan salah satu bentuk gengsi yang
membanggakan. Akibatnya, di kalangan remaja kemudian terjadi persaingan untuk
mendapatkan pacar. Pengertian pacaran dalam era globalisasi informasi ini sudah
sangat berbeda dengan pengertian pacaran 15 tahun yang lalu. Akibatnya, di
jaman ini banyak remaja yang putus sekolah karena hamil. Oleh karena itu, dalam
masa pacaran, anak hendaknya diberi pengarahan tentang idealisme dan kenyataan.
Anak hendaknya ditumbuhkan kesadaran bahwa kenyataan sering tidak seperti
harapan kita, sebaliknya harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Demikian pula
dengan pacaran. Keindahan dan kehangatan masa pacaran sesungguhnya tidak akan
terus berlangsung selamanya.Dalam memberikan pengarahan dan pengawasan terhadap
remaja yang sedang jatuh cinta, orangtua hendaknya bersikap seimbang, seimbang
antar pengawasan dengan kebebasan. Semakin muda usia anak, semakin ketat
pengawasan yang diberikan tetapi anak harus banyak diberi pengertian agar
mereka tidak ketakutan dengan orangtua yang dapat menyebabkan mereka berpacaran
dengan sembunyi-sembunyi. Apabila usia makin meningkat, orangtua dapat memberi
lebih banyak kebebasan kepada anak. Namun, tetap harus dijaga agar mereka tidak
salah jalan. Menyesali kesalahan yang telah dilakukan sesungguhnya kurang
bermanfaat.
Penyelesaian masalah dalam pacaran membutuhkan kerja sama
orangtua dengan anak. Misalnya, ketika orangtua tidak setuju dengan pacar
pilihan si anak. Ketidaksetujuan ini hendaknya diutarakan dengan bijaksana.
Jangan hanya dengan kekerasan dan kekuasaan. Berilah pengertian sebaik-baiknya.
Bila tidak berhasil, gunakanlah pihak ketiga untuk menengahinya. Hal yang
paling penting di sini adalah adanya komunikasi dua arah antara orangtua dan
anak. Orangtua hendaknya menjadi sahabat anak. Orangtua hendaknya selalu
menjalin dan menjaga komunikasi dua arah dengan sebaik-baiknya sehingga anak
tidak merasa takut menyampaikan masalahnya kepada orangtua.
Dalam menghadapi masalah pergaulan bebas antar jenis di masa
kini, orangtua hendaknya memberikan bimbingan pendidikan seksual secara
terbuka, sabar, dan bijaksana kepada para remaja. Remaja hendaknya diberi
pengarahan tentang kematangan seksual serta segala akibat baik dan buruk dari
adanya kematangan seksual. Orangtua hendaknya memberikan teladan dalam
menekankan bimbingan serta pelaksanaan latihan kemoralan yang sesuai dengan
Buddha Dhamma. Sang Buddha telah memberikan pedoman untuk bergaul yang tentunya
juga sesuai untuk pegangan hidup para remaja. Mereka hendaknya dididik selalu
ingat dan melaksanakan Pancasila Buddhis. Pancasila Buddhis atau lima latihan
kemoralan ini adalah latihan untuk menghindari pembunuhan, pencurian,
pelanggaran kesusilaan, kebohongan, dan mabuk-mabukan. Dengan memiliki latihan
kemoralan yang kuat, remaja akan lebih mudah menentukan sikap dalam bergaul.
Mereka akan mempunyai pedoman yang jelas tentang perbuatan yang boleh dilakukan
dan perbuatan yang tidak boleh dikerjakan. Dengan demikian, mereka akan
menghindari perbuatan yang tidak boleh dilakukan dan melaksanakan perbuatan
yang harus dilakukan.
C.
Contoh Kenakalan Remaja
Berikut ini adalah
beberapa contoh atau Jenis - jenis Kenakalan remaja yang sering timbul
belakangan ini :
- Contoh kenakalan
remaja 1 : Membolos sekolah
- Contoh
kenakalan remaja 2 : Kebut-kebutan di jalanan
- Contoh
kenakalan remaja 3 : Geng motor
- Contoh
kenakalan remaja 4 : Penyalahgunaan narkotika
- Contoh
kenakalan remaja 5 : Perilaku seksual pranikah
- Contoh
kenakalan remaja 6 : Perkelahian antar pelajar
- Contoh kenakalan
remaja 7 : Melawan orang tua dan guru
- Contoh kenakalan
remaja 8 : Malas beribadah
- Contoh kenakalan
remaja 9 : Berbohong kepada semua orang
- Contoh kenakalan
remaja 10 : Merusak fasilitas umum
- Contoh kenakalan
remaja 11 : Tawuran
- Contoh kenakalan
remaja 12 : Suka Terlambat
- Contoh kenakalan
remaja 13 : berkelahi dengan teman
- Contoh kenakalan
remaja 14 : Nonton majalah atau video porno
- Contoh kenakalan
remaja 15 : Main game berlebihan
- Contoh kenakalan
remaja 16 : Judi besar dan kecil-kecilan
- Contoh kenakalan
remaja 17 : Menghabiskan uang sekola
D.
Peran Orang Tua,
Guru dan Lingkungan Dalam Menangani Kenakalan Remaja
Sebenarnya menjaga sikap dan tindak
tanduk positif itu tidak hanya tanggung jawab para guru dan keluarganya, tetapi
semua orang, Guru yang selalu mengusahakan keluarganya menjadi garda terdepan
dalam memberikan pendidikan dengan sebuah contoh, adalah cerminan komitmen dan
pendalaman makna dari seorang guru. Sang guru harus berusaha agar keluarganya
baik dan tidak korupsi agar ia dapat mengajari kepada murid-muridnya yang
merupakan remaja generasi penerus bangsa memiliki moral dan ahlak baik dan
tidak korupsi, berusaha tidak berbohong agar murid-muridnya sebagai remaja yang
baik tidak menjadi pendusta, tidak terjaebak dalam kenakalan remaja.
Guru adalah profesi yang mulia
dan tidak mudah dilaksanakan serta memiliki posisi yang sangat luhur di
masyarakat. Semua orang pasti akan membenarkan pernyataan ini jika mengerti
sejauh mana peran dan tanggung jawab seorang guru . Sejak saya baru berusia 6
tahun hingga dewasa, orang tua saya yang merupakan seorang guru, selalu
memberikan instruksi yang mengingatkan kami para anak-anaknya adalah anak
seorang guru yang harus selalu menjaga tingkah laku agar selalu baik dan jangan
sampai melakukan sebuah kesalahan . Seberat itukah, seharus itukah kami
bertindak Lantas apa hubungan profesi orang tua dengan dengan anak-anaknya,
apakah hanya anak seorang guru yang harus demikian ?.
Peran guru tidak hanya sebatas
tugas yang harus dilaksanakan di depan kelas saja, tetapi seluruh hidupnya
memang harus di dedikasikan untuk pendidikan. Tidak hanya menyampaikan teori-teori akademis saja tetapi
suri tauladan yang digambarkan dengan perilaku seorang guru dalam kehidupan
sehari-hari.
Terkesannya seorang Guru adalah
sosok orang sempurna yang di tuntut tidak melakukan kesalahan sedikitpun,
sedikit saja sang guru salah dalam bertutur kata itu akan tertanam sangat
mendalam dalam sanubari para remaja. Jika sang guru mempunyai kebiasaan buruk
dan itu di ketahui oleh sang murid, tidak ayal jika itu akan dijadikan
referensi bagi para remaja yang lain tentang pembenaran kesalahan yang sedang
ia lakukan, dan ini dapat menjadi satu penyebab, alasan mengapa terjadi
kenakalan remaja.
Filosofi sang guru ini layak
untuk di jadikan filosofi hidup, karena hampir setiap orang akan menjadi
seorang ayah dan ibu yang notabenenya merupakan guru yang terdekat bagi
anak-anak penerus bangsa ini. Akan sulit bagi seorang ayah untuk melarang anak
remajanya untuk tidak merokok jika seorang ayahnya adalah perokok. Akan sulit
bagi seorang ibu untuk mengajari anak-anak remaja untuk selalu jujur, jika
dirumah sang ibu selalu berdusta kepada ayah dan lingkungannya, atau
sebaliknya. jadi bagaimana mungkin orang tua melarang remaja untuk tidak nakal
sementara mereka sendiri nakal?.
Suatu siang saya agak miris melihat seorang
remaja SMP sedang asik mengisap sebatang rokok bersama adik kelasnya yang masih
di SD, itu terlihat dari seragam yang dikenakan dan usianya memang terbilang
masih remaja. Siapa yang harus disalahkan dalam kasus ini. Apakah sianak remaja
tersebut, sepertinya tidak adil kalau kita hanya menyalahkan si anak remaja itu
saja, anak itu terlahir bagaikan selembar kertas yang masih putih, mau jadi
seperti apa kelak di hari tuanya tergantung dengan tinta dan menulis apa pada
selembar kertas putih itu . Orang pertama yang patut disalahkan mungkin adalah
guru, baik guru yang ada di rumah ( orang tua ), di sekolah ( guru), atau pun
lingkungannya hingga secara tanpa disadari mencetak para remaja tersebut untuk
melakukan perbuatan yang dapat digolongkan ke dalam kenakalan remaja.
Peran orang tua yang bertanggung
jawab terhadap keselamatan para remaja tentunya tidak membiarkan anaknya
terlena dengan fasilitas-fasilitas yang dapat menenggelamkan si anak remaja
kedalam kenakalan remaja, kontrol yang baik dengan selalu memberikan pendidikan
moral dan agama yang baik diharapkan akan dapat membimbing si anak remaja ke
jalan yang benar, bagaimana orang tua dapat mendidik anaknya menjadi remaja
yang sholeh sedangkan orang tuanya jarang menjalankan sesuatu yang mencerminkan
kesholehan, ke masjid misalnya. Jadi jangan heran apabila terjadi kenakalan remaja,
karena sang remaja mencontoh pola kenakalan para orang tua.
Tidak mudah memang untuk menjadi
seorang guru. Menjadi guru diharapkan tidak hanya didasari oleh gaji guru yang
akan dinaikkan, bukan merupakan pilihan terakhir setelah tidak dapat berprofesi
di bidang yang lain, tidak juga karena peluang. Selayaknya cita-cita untuk
menjadi guru didasari oleh sebuah idealisme yang luhur, untuk menciptakan para
remaja sebagai generasi penerus yang berkualitas.
Sebaiknya Guru tidak hanya
dipandang sebagai profesi saja, tetapi adalah bagian hidup dan idialisme
seorang guru memang harus dijunjung setinggi-tingginya. Idealisme itu
seharusnya tidak tergantikan oleh apapun termasuk uang. Namun guru adalah
manusia, sekuat-kuatnya manusia bertahan dia tetaplah manusia, jika terpaan
cobaan itu terlalu kuat manusia juga dapat melakukan kesalahan.
Akhir akhir ini ada berita di
media masa yang sangat meruntuhkan citra sang guru adalah berita tentang
pencabulan Oknum guru terhadap anak didiknya. Kalau pepatah mengatakan guru
kencing bediri murid kencing berlari itu benar, berarti satu orang guru
melakukan itu berapa orang murid yang lebih parah dari itu, hingga akhirnya
menciptakan pola kenakalan remaja yang sangat tidak ingin kita harapkan.
Gejala-gejala ini telah menunjukan
kebenarannya. Kita ambil saja kasus siswa remaja mesum yang dilakukan oleh para
remaja belia seperti misalnya kasus-kasus di remaja mesum di taman sari
Pangkalpinang ibukota provinsi Bangka Belitung, lokasi remaja pacaran di bukit
dealova pangkalpinang, dan remaja Ayam kampus yang mulai marak di tambah lagi
foto-foto syur remaja SMP jebus, ini menunjukkan bahwa pepatah itu menujukkan
kebenarannya.
Kerja team yang terdiri dari
orang tua (sebagai guru dirumah), Guru di sekolah, dan Lingkungan (sebagai Guru
saat anak-anak, para remaja bermain dan belajar) harus di bentuk. diawali
dengan komunikasi yang baik antara orang tua dan guru di sekolah, pertemuan
yang intensif antara keduanya akan saling memberikan informasi yang sangat
mendukung bagi pendidikan para remaja. Peran Lingkungan pun harus lebih peduli,
dengan menganggap para remaja yang ada di lingkungannya adalah tanggung jawab
bersama, tentunya lingkungan pun akan dapat memberikan informasi yang benar
kepada orang tua tentang tindak tanduk si remaja tersebut dan kemudian dapat
digunakan untuk mengevaluasi perkembangannya agar tidak terjebak dalam
kenakalan remaja.
Terlihat betapa peran orang tua
sangat memegang peranan penting dalam membentuk pola perilaku para remaja,
setelah semua informasi tentang pertumbuhan anaknya di dapat, orang tuapun
harus pandai mengelola informasi itu dengan benar. Terlepas dari baik buruknya
seorang guru nampaknya filosofi seorang guru dapat dijadikan pegangan bagi kita
semua terutama bagi para orang tua untuk menangkal kenakalan remaja, mari kita
bersama-sama untuk menjadi guru bagi anak-anak dan para remaja kita para remaja
belia, dengan selalu memberi contoh kebenaran dan memberi dorongan untuk
berbuat kebenaran. Sang guru bagi para remaja adalah Orang tua, guru sekolah
dan lingkungan tempat ia di besarkan. Seandainya sang guru dapat memberi
teladan yang baik mudah-mudahan generasi remaja kita akan ada di jalan yang
benar dan selamat dari budaya "kenakalan remaja" yang merusak
kehidupan dan masa depan para remaja, semoga.
E. Cara Mencegah dan
Mengatasi Kenakalan Remaja
-
Orang tua harus selalu memberikan dan menunjukkan perhatian dan
kasih sayangnya kepada anaknya. Jadilah tempat curhat yang nyaman sehingga
masalah anak-anaknya segera dapat terselesaikan.
-
Perlunya ditanamkan dasar agama yang kuat pada anak-anak sejak
dini.
-
Pengawasan orang tua yang intensif terhadap anak. Termasuk di
sini media komunikasi seperti televisi, radio, akses internet, handphone, dll.
-
Perlunya materi pelajaran bimbingan konseling di sekolah.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
·
Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja ialah sikap dan prilaku yang
menyimpang dari aturan, peraturan sosial, adat, hukum dan agama. Oleh karena
itu setiap tindakan remaja yang dianggap salah atau tidak pada tempatnya dapat
dikatakan /dikualifikasikan sebagai kenakalan.
·
Hal – Hal Yang Mempengaruhi Timbulnya Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja dapat ditimbulkan oleh
beberapa hal, sebagian di antaranya adalah, Pengaruh Kawan Sepermainan, Pendidikan, Penggunaan, Waktu Luang, Uang
Saku, Perilaku Seksual.
·
Cara Mencegah dan Mengatasi Kenakalan Remaja
-
Orang tua harus selalu memberikan dan menunjukkan perhatian dan
kasih sayangnya kepada anaknya. Jadilah tempat curhat yang nyaman sehingga
masalah anak-anaknya segera dapat terselesaikan.
-
Perlunya ditanamkan dasar agama yang kuat pada anak-anak sejak
dini.
-
Pengawasan orang tua yang intensif terhadap anak. Termasuk di
sini media komunikasi seperti televisi, radio, akses internet, handphone, dll.
-
Perlunya materi pelajaran bimbingan konseling di sekolah.
B. Saran
·
Disarankan kepada orang tua agar lebih memperhatikan anaknya
dengan cara memberikan bibingan khusus tentang akibat kenakalan remaja.
Daftar
Pustaka
Gemari. 2004. Pengaruh Pergaulan Bebas dan VCD
Porno Terhadap Perilaku Remaja Dimasyarakat. Majalah Keluarga Mandiri
Jakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar